Slider

Cari Blog Ini

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Kriminal

Nasional

Daerah

Politik & Hukum

Ekonomi

Olahraga

Hiburan

» » » Roza, korban Rekayasa Hukum. Buat Kapolri Dan Kapoldasu juga Mahkamah Agung Dan Kejagung RI Di Jakarta

Medan, selecta news. -Laporan buat kapolri Jenderal polisi Tito Karnavian dan Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto juga Mehkamah Agung (MA) dan kejaksaan Agung RI di jakarta. "Tindakan tidak terpuji atau ceroboh melakukan rekayasa hukum terhadap korban T. Laksamana Roza, sehingga korban terpaksa mendekam 15 tahun penjara, atas tuduhan tanpa bukti.

Prilaku petugas mengaku BNNk Langkat dan Anggota Opsal Narkoba polres Langkat memaksa korban dengan menyetrom alat membahayakan fatal kematian disebabkan tubuh dan jantung tak tahan, "ini langsung pengakuan korban T Laksamana Roza kepada keluarga T. Meftah zarifa didampingi ketua Umum DPP LSM pemantau penyalahgunaan peraturan pemerintah Aset Negara (PAAN), Drs Zulfadli sirait, SH, MSI, dikediaman keluarga, jumat 2 Nopember 2018. Anehnya, petugas BNNK Langkat dan Opsal Narkoba polres Langkat menemukan barang narkoba jenis pil ekstasi 600 butir pada sebuah bus putra pelangi Nopol, BK 7302 AK persisnya dibangku nomor 32 dibawah tempat duduk terdakwa Roni J Tampubolon, saat digeledah petugas, Rabu 25 April 2018 sekira pukul 05.00 wib, di jalan lintas sumatera, Desa kwala begumit kecamatan stabat kabupaten langkat sum. Utara.

Pengakuan Roni J Tampubolon kepada petugas BNNK langkat dan Opsal Narkoba polres langkat, barang haram 600 butir pil ekstasi diperolehnya dari faisal warga Aceh saat ini buronan daftar pencarian orang (DPO), katanya, dia akan diberikan upah sebesar RP 1,5 juta.

Sedangkan petugas pikirannya lain hendak menjebak terdakwa Musliadi, dengan cara menyuruh Roni J Tampubolon untuk menghubungi musliadi.

Setelah itu di perintahkan petugas yang nakal dan kotor pikirannya dengan memaksa musliadi hubungi T laksamana Roza."

Begitu permainan oknum petugas BNNK dan Opsal narkoba polres langkat selama ini kerja mereka mengakal-akal orang yang dapat diperasnya.

Sehingga pimpinan polri BNNK langkat dan polres Langkat semacamnya tidak tahu atau pura-pura tidak tahu." tegas Zulfadli.

Tutup mulut di pengadilan.

Kasus rekayasa hukum berlanjut di pengadilan negeri (PN) stabat, para terdakwa tidak diperkenankan banyak ngomong dan harus mengakui berita acara perkara (BAP)  kepolisian langkat.

Menurut korban T. Laksamana Roza saat dia mau menunjukkan siksaan yang memar ditubuhnya, namun tidak bisa angkat bicara, paparnya pada keluarga. 

Ironisnya, yang memutuskan vonis hukuman ketika itu oleh Hakim Tunggal dan jaksa tunggal. Apa ini dibenarkan hukum.

Terserah kepada penguasa hukum tertinggi, Seperti kejagung dan mahkamah Agung, kata ketua DPP LSM PAAN kepada awak media.(fauzie-jojo-shaf)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply