Slider

Cari Blog Ini

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Kriminal

Nasional

Daerah

Politik & Hukum

Ekonomi

Olahraga

Hiburan

» » » Buat Kapolri Dan Kapolda,Terdakwa T. Laksamana Roza Diperiksa Dengan Distrom Agar Mangaku

Medan, selecta news.-Pengakuan terdakwa T. Laksamana Roza (38)Warga medan, menurutnya dia tidak tahu kasus yang menimpa dirinya. Selain dipaksa harus mengaku milik narkotika jenis pil Ekstasi 600 butir. Sementara dia sama sekali ketika dihubungi petugas yang mengaku BNNK Langkat dan Tim Opsal Narkoba Polres Langkat melalui musliadi supaya bertemu dikawasan tomang elek medan.

Ketika terdakwa roza datang ke tempat yang dijanjikan langsung dipiting petugas agar mengaku ada memiliki Narkoba pil ekstasi. Tapi Roza tidak mengaku lalu petugas kehilangan akal langsung menyetrom agar berterus terang mengaku. Sementara barang bukti narkoba jenis pil ekstasi tidak ditemui pada dirinya, namun petugas terus menyetromnya.

Petugas BNNK Langkat dan polres langkat sudah menangkap seorang pria roni J Tampubolon dalam perjalanan dari Aceh,persis jalan lintas sumatera Desa kwala begumit stabat, Kab. Langkat saat dilakukan razia dihadang mobil bus putra pelangi No. Pol-BL 7302 AK dan satu persatu para penumpang diperiksa barang bawaan.

Ternyata dibangku No. 32 Roni J Tampubolon dibawa ditemukan bungkusan plastik hitam asoy berisikan narkotika jenis pil ekstasi sebanyak 600 butir.

Pengakuan roni barang haram itu miliknya dipereleh dari Faisal warga Aceh dan kini masih buronan petugas alias daftar pencarian orang (DPO), hasil keterangan terdakwa Roni J Tapubolon, Rabu 25 April 2018,sekitar penangkapan pukul 05.00 Wib.

Pengakuan terdakwa roni,narkoba pil ekstasi tersebut dia memperoleh uang upah sebesar RP 1,5 juta.

Pil ekstasi diantar pada terdakwa musliadi.  Kemudian musliadi dipaksa petugas agar melibatkan T. Laksamana roza yang kebetulan kepala perparkiran di mayestik petisah medan.

"Begitu peran dari skenario lima oknum aparat pengausa yang menjunjung tinggi hukum itu, yakni Hamdani, Th simanjuntak, H. Edi Yanto, julhesbon sinaga dan darsono, "yang lihay mengalihkan persoalan itu kepada Roza.

Tidak profesional.

Dalam pengungkapan hasil penyidikan petugas BNNK langkat dan Opsal narkoba polres langkat 'tidak profesional'.

Melakukan pemeriksaan dan penyidikan harus menggunakan menyentron terdakwa, apalagi alat stron yang digunakan berdaya Voltace tinggi.

Anehnya,alat tersebut bisa membawa fatal kematian karena jantung tak tahan,tukas salah seorang pakar hukum di medan. Tuduhan yang ditujukan kepada terdakwa T. Laksamana Roza tidak memenuhi persyaratan hukum, karena barang bukti narkoba tidak ditemukan.

Petugas hanya berlandaskan pengakuan terdakwa yang distrom saja.  Hal ini sudah cacat hukum.

Sementara pengakuan petugas BNNK langkat darsono, mintak tidak ada bukti, namun dalam kasus narkoba baru niat saja sudah bisa terjerat hukum.  Memang diakuinya, terdakwa bisa dikenakan hukuman percobaan.

Aneh bin ajaib. Persidangan di PN langkat,aneh bin ajaib, menurut pengakuan terdakwa untuk memutuskan perkara para terdakwa dilakukan Hakim tunggal dan jaksa tunggal Renhard Harve, SH MH.

Bagaimana itu bisa terjadi diserahkan saja kepada kejagung dan kapolri di jakarta dan kapolda sumut di medan. (fauzie-shafwan-ahmad zulkifli)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply